Sudah satu bulan lamanya
aku tinggal di sebuah kota kecil di ujung Sumatera ini. Aku jatuh hati padanya.
Pemandangannya asri, dan masyarakatnya sangat ramah. Berbeda dengan kota – kota
lain yang pernah kusinggahi sebelumnya.
Tempat yang paling
kusukai di sini adalah pasar. Pasar? Ya. Kenapa? Karena di sini adalah jalur
sutera perdagangan. Ramai setiap hari. Bahkan di hari – hari tertentu, pasar
ini terlalu ramai sampai berdesak - desakan.
Hari itu, seperti biasa
aku menghabiskan hari liburku dengan mengunjungi pasar. Menyusuri gang demi
gang menikmati riuh – rendahnya perniagaan. Tiba – tiba di ujung gang yang
sedang aku lewati itu terjadi suatu keributan. Penasaran, aku merangsek masuk
ke kerumunan itu.
Illustration by Google Image |
“Kembalikan uang saya, Pak!”
Ujar seorang wanita dengan nada tinggi.
“Tapi saya tidak
mengambil uang ibu. Saya hanya melihat dompet ibu tercecer di depan lapak saya.
Sehingga saya kejar ibu untuk mengembalikannya. Sumpah, Bu. Sepeser pun
saya tak mengambil uang ibu.”
“Tidak mungkin. Anda
pasti telah mengambil uang di dalamnya! Padahal Anda sudah tua, tapi masih saja
nekad berbuat demikian...”
“Tapi bu, saya benar –
benar tidak mengambil uang ibu...” Si kakek memelas minta pengertian.
“Maling mana mau mengaku!
Kalau maling jujur, penuh penjara dibuatnya!” Sahut wanita itu ketus.
“Mbak! Nggak bisa begitu
dong, Mbak. Mbak nggak bisa menuduh bapak ini tanpa bukti.” Aku membela.
“Mas nggak usah ikut
campur!” Semburnya. . “Mas nggak tahu apa - apa. Bapak ini telah mencuri uang
saya. Uang yang akan saya pergunakan untuk membayar biaya sekolah anak saya. Sudah
tiga bulan menunggak. Hanya itu uang saya yang tersisa. Saya sudah tak memiliki
uang lagi…” Lanjut wanita itu dengan berkaca – kaca.
Pak Dirman terdiam. Orang
– orang yang menyaksikan keributan itu pun mendesak sang kakek untuk
mengembalikan uang wanita itu.
Beberapa saat kemudian, Pak
Dirman merogoh tas kecil di pinggangnya. “In... ambillah…” Kakek itu menyodorkan
segepok uang.
Satu bulan berlalu. Aku masih
belum lupa tentang kejadian itu. Sejak itulah, lapak Pak Dirman semakin hari
semakin sepi. Bahkan sudah beberapa hari dia tak terlihat berjualan. “Kemana
Pak Dirman?” pikirku.
Hari ini sangat teduh. Mendung
terlihat sudah sangat berat. Tak lama lagi hujan pasti segera turun. aku
bergegas menyusuri jalan berdebu yang sudah terlihat sangat sepi itu. Tiba –
tiba, “Mas! Tolong saya, Mas…” Seru seseorang dari belakang.
Aku membalikkan badan. Ternyata
yang memanggilku adalah wanita yang kehilangan uang waktu itu. “Oh, ada apa
Mbak?” tanyaku penasaran.
“Tolong saya, Mas. Saya
diikuti oleh orang misterius lagi!” Jawabnya gugup. Dia menggigil ketakutan.
“Orang misterius??”
“Iya, mas. Akhir – akhir ini
saya sering diikuti oleh seseorang yang misterius. Menyeramkan sekali.”
“Masa’ sih, mbak?” Aku
masih tak percaya.
“Sumpah, mas!” Sahutnya. “Ah,
itu dia‼” Sambungnya lagi sambil menunjuk seseorang berjubah kelabu yang
berjalan pelan ke arah kami. Dia refleks memposisikan dirinya di belakangku.
“Ayo, mas. Kita harus
segera pergi. Saya takut dia hendak mencelakakan saya.” Desaknya menarik –
narik tanganku. Aku bimbang. Penguntit itu terlihat terlalu lamban untuk
menjadi seorang penguntit. Langkahnya pun gontai seperti zombie. “Aayo, maas…!”
Desak wanita itu lagi.
BRUKK!!
Tiba – tiba orang
misterius berjubah kelabu itu ambruk. Spontan aku berlari menghampirinya. Kupangku
badan kurus nan ringkih itu. Kusingkap jubah lusuhnya. Sontak aku terkejut, “Pak
Dirman??” Seruku.
Wanita itu pun terkesiap.
Ia membelalakkan matanya seolah tak percaya orang misterius yang kerap
menguntitnya adalah orang yang dituduhnya mencuri uang waktu itu.
“Saya... saya bukan
pencuri... Saya... hanya... ingin memastikan… ibu itu... tidak kehilangan...
dom... dompetnya lagi... Saya... kasihan... uang waktu itu... adalah... hasil
dagang saya... saya kasihan... anaknya butuh biaya...”
Aku terpana mendengar
pengakuannya. Begitu juga dengan wanita itu yang bersimpuh di hadapanku.
“Uhukk... Uhuk...”
Kakek itu kesulitan
bernapas. Matanya yang merah mengucurkan airmata. Badannya menggigil
kedinginan.
“Bertahanlah, Pak! Saya akan
panggil dokter!” Kataku.
“Tidak... perlu repot...
mas... “ Jawabnya. “Waktu saya... sudah hampir habis...”
“Pak... jangan bicara
seperti itu... Maafkan saya...!” Wanita itu histeris mengguncang – guncang badan
Pak Dirman. “Maafkan saya, pak...” Ulangnya lagi dengan penuh penyesalan. Airmatanya
membanjir. Kakek itu membalas dengan senyuman.
“Hhhhhhh...‼” Napasnya
semakin tak beraturan. Tiba – tiba badannya mengejang seperti menahan rasa
sakit yang teramat sangat. Beberapa saat kemudian, tubuh renta itu lemas
terkulai. Tepat di pangkuanku.
Tetes demi tetes
membasahi jalan berdebu ini. Rinainya semakin bertambah. Hujan deras mengguyur
melepas kepergian pria tua berhati mulia itu. Aku mengusap wajahnya. “Semoga
dia diberikan tempat yang layak di Sisi-Nya...” Ujarku lirih seraya bangkit
menggendong tubuh renta itu.
Fiktif by Menuang Ide, Restu Jati Prayogi
Pria Tua Berhati Mulia
4/
5
Oleh
Unknown
Terimakasih telah membaca. Berikan tanggapan Anda pada kolom komentar...